Minggu, 25 Februari 2024

Bisa Calistung Saja tak Cukup, Etika Juga Perlu

- Senin, 17 April 2023 19:51 WIB
Bisa Calistung Saja tak Cukup, Etika Juga Perlu

Usia emas atau golden age dimaknai sebagai tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling penting pada awal kehidupan anak. Secara sederhana, usia emas adalah masa keemasan manusia yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya atau berada di rentang usia 0 hingga 8 tahun. 

Baca Juga:


Anak yang berada di rentang usia 0 hingga 8 tahun dalam istilah lain disebut dengan anak usia dini. Pada anak usia dini, pertumbuhan dan perkembangan anak sangat pesat yang meliputi motorik dan sensoriknya.


Pada anak usia dini, pertumbuhan dan perkembangan anak tak semata-mata hanya menyangkut soal gizi, kesehatan, atau pendidikan dasar semata. Lebih dari itu, sejak usia dini, anak juga diharapkan paham dan memiliki etika dalam kehidupan sehari-hari. 


*Problematika Calistung*

Pada perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia beberapa tahun terakhir, pendidikan terkait etika kerap terlupakan. Di jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) yang menjadi tempat belajar anak usia dini, pendidikan yang diutamakan adalah kemampuan baca, tulis, dan berhitung (Calistung). Saat ini, Calistung kerap dianggap sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak usia dini, terutama ketika si anak akan memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD). 

Hal ini membuat orang tua anak menjadi khawatir jika anaknya tak bisa Calistung. Orang tua yang memiliki anak usia dini takut kalau anak-anaknya tidak dapat mengikuti pembelajaran apabila tidak dibekali dengan kemampuan Calistung di jenjang TK. Ketakutan orang tua ini cukup berasalan karena saat duduk di bangku SD, banyak buku pelajaran yang sudah memuat teks yang harus dapat dibaca. 


Selain itu, guru di tingkat SD pada umumnya dalam memberi pelajaran “menuntut” siswa sudah harus bisa Calistung dikarenakan guru mengejar capaian pembelajaran yang harus mampu dikerjakan seorang siswa. Akibatnya, guru cenderung mengejar kemajuan nilai prestasi seorang siswa. 


Jadi, pada umumnya pendidikan sebelum memasuki tingkat SD (PAUD dan TK) cenderung mengejar kemampuan Calistung untuk mempersiapkan siswa mampu melanjutkan pendidikan selanjutnya. Akibatnya, pembinaan etika kurang diperhatikan. Selain itu, waktu bermain dan bersosialisasi siswa tak banyak karena materi pembelajaran yang harus dikerjakan di rumah yang cukup banyak. 


Persoalan lain adalah, masih banyak siswa yang baru saja memulai mengeyam pendidikan SD yang belum memahami huruf dan angka tetapi sudah dituntut mampu Calistung. Permasalahan selanjutnya akan timbul karena seorang siswa akan mengejar ketertinggalan Calistungnya dengan berbagai cara seperti melakukan les atau privat. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bersosialisasi dengan orang tua, teman, atau saudara. Karena waktu yang terbatas ini, anak tak punya kesempatan untuk belajar etika. Padahal pendidikan etika juga perlu dalam mempersiapkan anak menjadi individu yang bermoral dalam kehidupannya.


Selain persoalan di atas, saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat menyebabkan manusia satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi dengan mudah dan cepat. Hal ini yang menyebabkan terjadinya pertukaran kebudayaan yang belum tentu sesuai dengan etika bangsa Indonesia.


Hal ini tak hanya memengaruhi anak usia dini tetapi juga memengaruhi semua batas usia karena kemudahan teknologi. Ironisnya, teknologi tak hanya bisa membuat seorang siswa matang sebelum waktunya, tetapi juga bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Untuk orang dewasa atau yang sudah memiliki pemikiran yang cukup, pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membantu menyelesaikan pekerjaan ataupun persoalan. 


Akan tetapi, pada anak usia dini atau yang belum memiliki pemikiran yang cukup, kemajuan teknologi ini dapat menyebabkan kemerosotan etika dikarenakan belum mampu mengontrol dan mengendalikan diri untuk memilih bagian mana yang berguna dalam menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.


*Prioritaskan Etika*

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2017 disebutkan bahwa, “Pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan pada tingkat satuan pendidikan taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf dan angka.”


Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan ayat 1 menyebutkan bahwa, “Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis Peserta Didik”.


Berangkat dari dua aturan hukum di atas, maka Calistung sebaiknya tak menjadi keharusan yang utama. Kemampuan Calistung memang penting, tetapi etika juga perlu. Etika merupakan sikap yang perlu diajarkan sejak usia dini. Banyak manfaat yang diperoleh jika etika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, etika mampu menjadi pedoman yang bisa membantu anak untuk menyampaikan kebenaran, menepati janji, hingga membantu orang lain yang sedang kesusahan.


Untuk mewujudkan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 diperlukan sarana dan prasarana yang memadai di tingkat PAUD dan TK. Sebagai contoh, ruang bermain anak didik harus memadai dari segi keselamatan dan kenyamanan saat bermain di sekolah. Selain itu, tenaga pendidik juga harus berkompeten untuk mendidik anak usia dini dengan sabar dan menyenangkan sehingga siswa merasa nyaman untuk bersekolah. 


Demikian juga, materi pembelajaran yang diberikan kepada anak usia dini harus mengandung unsur pembelajaran etika. Contohnya saling tegur sapa dengan sesama siswa maupun guru. Hal ini dapat melatih sopan santun. Pendidikan lainnya juga harus melatih motorik dan sensorik peserta didik. Contohnya melakukan pelatihan baris berbaris dengan rapi dibarisannya serta menyanyikan lagu-lagu yang sederhana dan mengandung unsur gembira. Jadi, pendidikan yang diajarkan tidak menjadi hal yang menakutkan bagi anak usia dini. 


Seorang anak usia dini bila sudah bergembira saat berangkat sekolah maka pelajaran yang diberikan seorang guru akan mudah diserap. Jadi, seorang guru harus mampu menjiwai dan memotivasi anak didiknya. Demikian juga bagi orang tua anak tersebut harus mau mendukung dan memantau perkembangan anaknya. 


Boleh kita katakan harus ada kerjasama antara guru dan orang tua untuk memotivasi seorang anak dalam pembelajaran yang meliputi etika. Contohnya, orang tua bisa menegur anak yang berbuat salah dengan cara yang lembut serta memberikan solusi akibat dari kesalahan tersebut. Dengan begitu, anak tersebut dapat menerima teguran yang diberikan kepadanya.


Pendidikan usia dini sebaiknya mengutamakan pendidikan etika. Mengapa? Karena  anak usia dini diibaratkan sehelai kertas putih yang belum bergambar serta seorang guru dan orangtua yang akan mengukir gambar di atas kertas tersebut. Hal ini harus dipahami oleh guru maupun orang tua mengapa pendidikan etika sebaiknya lebih diutamakan untuk diajarkan. 


Pada pendidikan usia dini lebih baik siswa tersebut mempunyai kemampuan etika daripada akademik. Hal tersebut lebih berguna bagi anak saat nanti mereka telah tamat dari semua tingkat satuan pendidikan dan terjun ke masyarakat. Etika adalah hal utama dilihat dari anak usia dini tersebut. (*)


* Penulis, Putri Theresia Nainggolan, adalah mahasiswi FKIP  Unika Santo Thomas Medan dan aktif di UKM Komunitas menulis Mahasiswa Veritas *

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Skill Komunikasi Bagi Perilaku Karyawan di Dalam Organisasi dan Bagi Kinerja Perusahaan di Era digital, Vuca, dan Disrupsi

Skill Komunikasi Bagi Perilaku Karyawan di Dalam Organisasi dan Bagi Kinerja Perusahaan di Era digital, Vuca, dan Disrupsi

Tugas dan Wewenang Staff Legal yang Perlu Diketahui

Tugas dan Wewenang Staff Legal yang Perlu Diketahui

Usulan Dua Panel Penghitungan di TPS oleh KPU Wajib Didukung

Usulan Dua Panel Penghitungan di TPS oleh KPU Wajib Didukung

Mari Tingkatkan Partisipasi Masyarakat Pada Pemilihan Umum

Mari Tingkatkan Partisipasi Masyarakat Pada Pemilihan Umum

Peran Aktif Masyarakat Menentukan Pemilihan Umum yang Berkualitas

Peran Aktif Masyarakat Menentukan Pemilihan Umum yang Berkualitas

EPZA: Sidang Isbat Kurang Relevan

EPZA: Sidang Isbat Kurang Relevan

Komentar
Berita Terbaru