Senin, 22 April 2024

Harga Jagung Naik Picu Kenaikan Harga Pakan

Siti Amelia - Jumat, 16 Februari 2024 18:12 WIB
Harga Jagung Naik Picu Kenaikan Harga Pakan
pixabay
Ilustrasi jagung

Kitakini.news - Harga jagung mengalami kenaikan yang cukup tajam belakangan ini. Harga jagung terpantau mulai mengalami kenaikan dari bulan Oktober 2023, kala itu, harga jagung masih di kisaran Rp 6 ribuan per kg.

Baca Juga:

"Namun, saat ini harga jagung pipil sudah mencapai Rp 7.700 per Kg nya. Sementara, jagung giling sudah mencapai 8 ribu per kg," kata Ketua Pemantau Harga Pasar Sumut Gunawan Benjamin, Jumat (16/2/2024).

Harga jagung tersebut, jelas dia, adalah harga dimana peternak membeli pakan (jagung). Kenaikan harga jagung tersebut memang berpotensi membuat peternak daging ayam maupun peternak telur ayam mengalami kerugian.

"Terlebih untuk peternak daging ayam mandiri, karena kenaikan biaya input produksi tidak lantas membuat harga daging ayam dipasaran juga ikut naik," tuturnya.

Gunawan menjelaskan, dalam 4 bulan belakangan harga daging ayam sempat ditransaksikan dalam rentang Rp 23 ribu hingga Rp 32 ribu per Kg. Saat ini harga daging ayam berada dikisaran Rp 30 ribu hingga Rp 32 ribu per Kg mengacu kepada PIHPS di kota Medan.

Padahal, ungkap dia, disaat harga jagung masih dikisaran Rp 6 ribuan saja, harga kontrak dikandang berkisar Rp 21 ribu per Kg nya.

"Dengan harga segitu (Rp 7.700), maka harga keekonomian di pedagang pengecer sekitar Rp 31 hingga Rp 33 ribu per Kg nya," terangnya.

Sayangnya harga jagung yang naik belakangan ini, tidak lantas mendorong kenaikan harga daging ayam maupun telur ayam.

Dan dari pantauan di pasar, dalam dua bulan terakhir saja terjadi kenaikan harga pakan ternak sebanyak Rp 500 per Kg nya. Tetapi harga daging ayam mentok di angka Rp 32 ribu.

"Memang kita mengkhawatirkan gimana nasib peternak mandiri nantinya. Karena mereka yang paling terdampak dengan kenaikan biaya input produksi tersebut," bebernya.

Sementara menaikkan harga justru bisa membuat konsumen beralih ke sumber pangan subtitusi seperti telur, tahu/tempe atau ikan segar. Konsumen sangat sensitif dengan kenaikan harga belakangan ini.

Dan dari beberapa kali menghitung ekspektasi produksi, ucapnya, penurunan produksi juga tidak lantas memicu kenaikan harga di level konsumen.

"Jadi memang pasar daging ayam berpeluang membentuk struktur pasar oligopoli seperti yang disampaikan KPPU (komisi pengawas persaingan usaha) Sumut," terangnya.

Tetapi, ungkap dia, mekanisme pasar yang membuatnya menjadi seperti itu. Perusahaan daging ayam terintegrasi memang berpeluang bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya input produksi, dibandingkan dengan peternak mandiri.

"Tetapi jika nanti banyak peternak mandiri yang merugi atau bahkan gulung tikar karena kenaikan harga jagung. Dan menyisakan peternak besar (perusahaan) terintegrasi, maka itu bukan salah mereka (perusahaan)," tuturnya.

"Mekanisme pasar yang membuat struktur pasarnya menjadi oligopoli. Saya harap KPPU bisa mendalami lagi dinamika pasar yang berkembang belakangan ini. Karena daya beli yang melemah membuat mekanisme pasar menseleksi produsen efisien yang mampu bertahan," tandasnya.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Indosat Kolaborasi Mastercard Jaga Ekonomi Digital Indonesia

Indosat Kolaborasi Mastercard Jaga Ekonomi Digital Indonesia

Rupiah Melemah, Eksportir Sawit Sumut Bersyukur

Rupiah Melemah, Eksportir Sawit Sumut Bersyukur

Pemerintah Harus Curahkan Perhatian Jaga Ketahanan Pangan dan Perbankan

Pemerintah Harus Curahkan Perhatian Jaga Ketahanan Pangan dan Perbankan

Pasca Monitoring Harga, KPPU Akan Awasi Ketat Perdagangan Komoditas Ini!

Pasca Monitoring Harga, KPPU Akan Awasi Ketat Perdagangan Komoditas Ini!

Bukannya Turun, Pasca Ramadan Harga Cabai Merah Sentuh Rp 100 Ribu/Kg

Bukannya Turun, Pasca Ramadan Harga Cabai Merah Sentuh Rp 100 Ribu/Kg

Ekonom : Hari Ini Pasar Keuangan Masih Dibayangi Tekanan

Ekonom : Hari Ini Pasar Keuangan Masih Dibayangi Tekanan

Komentar
Berita Terbaru