Kepemimpinan Sadio Mané, Alasan Senegal Pantas Juara AFCON
Malam itu, final Piala Afrika antara Maroko dan Senegal nyaris berubah dari panggung kejayaan menjadi skandal terbesar sepak bola Afrika. Dan Mané, bukan karena gol,l atau asis, bahkan selebrasi, namun kebijaksanaan, menjadi alasan mengapa pertandingan itu tetap hidup.
Baca Juga:
Ketika Emosi Menguasai Semua Orang
Keputusan penalti untuk Maroko di penghujung laga terasa seperti percikan api di atas bensin. Pemain Senegal berteriak, ofisial bereaksi keras, dan sebagian skuad bahkan meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Sepak bola seolah berhenti.
Di momen itu, Senegal berada di persimpangan: melanjutkan laga yang dianggap tidak adil, atau berjalan keluar dan membiarkan sejarah mencatat mereka karena amarah. Sebagian besar pemain memilih opsi kedua, kecuali Sadio Mané, sang bintang Al Nassr.
Mané Memilih Tetap Tinggal
Saat rekan-rekannya menuju ruang ganti, Mané tidak ikut. Ia berdiri, berbicara, dan menunggu. Ia mendekati pemain satu per satu, bukan sebagai bintang dunia yang telah menjuarai Liga Champions dan AFCON sebelumnya, tetapi sebagai pemimpin yang memahami arti lebih besar dari sebuah pertandingan.
Mané tahu keputusan wasit bisa keliru. Ia juga tahu rasa frustrasi itu nyata. Namun ia percaya satu hal: meninggalkan lapangan bukan jawaban.
"Wasit bisa salah. Itu bagian dari sepak bola. Tapi menghentikan pertandingan bukan hal yang adil," kata Mané kemudian.
Di tengah tekanan luar biasa, ia memilih nilai, bukan emosi. Menurutnya, laga final seperti itu harus dilanjutkan, apapun konsekuensinya.
Keputusan yang Mengubah Segalanya
Bujukan Mané berhasil. Senegal kembali ke lapangan. Final AFCON 2025 diselamatkan dari kehancuran, dan sepak bola kembali bernapas.
Ironisnya, penalti yang memicu semua kekacauan itu justru gagal. Brahim Díaz mencoba panenka, Édouard Mendy menepis, dan momentum berbalik total. Senegal kemudian mencetak gol kemenangan di babak tambahan waktu.
Namun bagi banyak orang, itulah detail terakhir dari cerita ini, buah dari kebijaksanaan.
Warisan yang Tak Tercatat di Papan Skor
Kemenangan Senegal memang tercatat sebagai 1-0. Trofi AFCON kembali ke Dakar, ibukota Senegal. Tapi malam itu juga meninggalkan warisan lain, warisan yang tidak tercantum di statistik.
Sadio Mané menunjukkan bahwa di panggung terbesar, di bawah tekanan paling brutal, seorang pemain bisa memilih untuk menjadi lebih dari sekadar atlet. Ia memilih menjadi penjaga nilai permainan.
Rekan setimnya, kiper Édouard Mendy, menyebutnya singkat namun dalam:
"Kami marah. Tapi akhirnya, sepak bola yang menang," ucapnya.
Dan di balik kemenangan sepak bola itu, ada satu keputusan sunyi dari seorang kapten yang menolak pergi, memilih tinggal di lapangan, meneruskan perjuangan hingga hasilnya pun menjadi sejarah penting sepakbola, tidak hanya untuk benua Afrika, tapi juga dunia.
Lebih dari Seorang Bintang
Sadio Mané telah lama dikenal karena kerendahan hatinya di luar lapangan, membangun sekolah, rumah sakit, dan masjid di kampung halamannya di Bambali.
Di Rabat, Maroko, dia melakukan hal serupa, tetapi untuk sepak bola Afrika.
Ia membangun sesuatu yang tak kasat mata, yakni martabat permainan.
Final AFCON 2025 akan dikenang karena kontroversinya. Tapi bagi mereka yang melihat lebih dekat, malam itu adalah tentang seorang pemain yang mengingatkan dunia bahwa bahkan di final paling panas sekalipun, kebijaksanaan masih bisa menang.
Sumber: Al Jazeera, Reuters, GOAL.com, beIN Sports
Drama Panjang di Rabat: Penalti Kontroversial, Gol Extra Time Pape Gueye Antar Senegal Juara AFCON 2025
Bukan Sekadar Final: Maroko dan Senegal Bertarung Demi Sejarah di AFCON 2025
Drama Penalti Afrika: Harapan Mesir Hancur di Kaki Nigeria
Medali Perunggu atau Luka Tambahan? Mesir vs Nigeria di Panggung AFCON
Final AFCON 2025: Maroko Andalkan Magis Tuan Rumah, Senegal Datang Dengan Mental Juara