Bukan Sekadar Final: Maroko dan Senegal Bertarung Demi Sejarah di AFCON 2025
Baca Juga:
Bagi Maroko, ini adalah kesempatan langka untuk mengakhiri puasa gelar hampir 50 tahun. Sementara itu, Senegal menjejakkan kaki di final untuk ketiga kalinya dalam empat edisi terakhir, membuktikan konsistensi dan karakter tim yang sulit ditandingi.
Regragui: Emosi Adalah Kunci
Pelatih Maroko, Walid Regragui, tampil di hadapan media dengan nuansa optimisme yang hati-hati. Ia menegaskan bahwa timnya sudah siap, tetapi tekanan final tetap menjadi tantangan terbesar.
"Kami sudah bermimpi sampai langkah ini. Final adalah 50/50, tapi mungkin 51 persen berpihak pada kami karena dukungan penonton," ujar Regragui menjelang pertandingan.
"Kunci kami adalah bagaimana kami mengelola emosi, tidak membiarkan tekanan membuat kami bermain kaku. Ini sepak bola, kita harus menikmatinya," ujarnya.
Regragui juga menyoroti salah satu bintang timnya, Brahim Díaz, yang menjadi motor serangan dan mampu mencetak gol penting sepanjang turnamen, menunjukkan kapasitasnya sebagai mesin gol Maroko yang sulit dihentikan.
Thiaw: Ini Adalah Cita-Cita Sebuah Bangsa
Sisi lain lapangan, pelatih Senegal, Pape Thiaw, datang dengan pesan yang tegas, bukan hanya soal taktik, tetapi juga semangat solidaritas dan kebanggaan nasional. Ia pun berbicara tentang masa depan legenda mereka Sadio Mané:
"Keputusan tentang masa depan Sadio tidak lagi sepenuhnya miliknya. Ada sebuah bangsa yang berharap dia akan terus bermain. Saya ingin dia kembali untuk tim ini lebih lama," ucap Thiaw kepada wartawan di Rabat.
Namun Thiaw juga tak segan mengungkapkan kekhawatirannya atas situasi di sekitar timnya sebelum final dimulai. Ia mengkritik pengaturan keamanan yang dianggap kurang memadai saat rombongan Senegal tiba di ibu kota, memperingatkan bahwa hal semacam itu
"tidak seharusnya terjadi antar dua negara bersaudara," ucapnya.
Drama di Luar Lapangan, Tekanan di Dalamnya
Menjelang kickoff, suasana tidak hanya panas di stadion, tetapi juga di pinggir lapangan dan ruang ganti. Senegal sempat mengungkapkan ketidakpuasan atas alokasi tiket pendukung mereka yang jauh lebih sedikit dibanding kapasitas stadion, sebuah isu yang membuat Federasi Sepak Bola Senegal angkat bicara demi fair play.
Meski demikian, kedua tim tetap menegaskan rasa saling menghormati satu sama lain, sadar bahwa final ini adalah perayaan sepak bola Afrika sekaligus ujian karakter juara.
Prediksi dan Suasana Final
Dengan atmosfer stadion yang dipenuhi suporter tuan rumah dan tekanan besar yang melekat pada kedua tim, final ini diprediksi akan berjalan sangat ketat. Maroko mengandalkan kreativitas dan semangat juang pemain muda mereka, sementara Senegal mengusung pengalaman dan kedisiplinan sebagai kunci mengatasi tekanan besar di pentas paling bergengsi benua ini.
Siapa pun yang keluar sebagai pemenang nanti, final Maroko vs Senegal akan dikenang sebagai momen besar di sepak bola Afrika, laga yang memadukan taktik, ketangguhan, kebanggaan nasional, dan cerita emosional yang lebih dari sekadar skor di papan hasil akhir.
Sumber: Arab News, MyJoyOnline, SportPesa Blog, AFP lewat SuperSport, CAF Online
Kepemimpinan Sadio Mané, Alasan Senegal Pantas Juara AFCON
Drama Panjang di Rabat: Penalti Kontroversial, Gol Extra Time Pape Gueye Antar Senegal Juara AFCON 2025
Drama Penalti Afrika: Harapan Mesir Hancur di Kaki Nigeria
Medali Perunggu atau Luka Tambahan? Mesir vs Nigeria di Panggung AFCON
Final AFCON 2025: Maroko Andalkan Magis Tuan Rumah, Senegal Datang Dengan Mental Juara