Muhammad Ali Sang Legendaris: Ia Melawan Perang, Kehilangan Gelar, Kini Selamanya Dicintai Dunia
Emas dari Roma dan Lahirnya Seorang Juara
Baca Juga:
Musim panas 1960 di Roma menjadi panggung pertama bagi dunia untuk mengenal seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Cassius Marcellus Clay Jr. Dengan gaya bertinju lincah dan kepercayaan diri yang nyaris terasa sombong, ia merebut medali emas Olimpiade Roma 1960 di kelas light heavyweight (ringan-berat). Namun lebih dari emas, Ali membawa pulang keyakinan bahwa ia ditakdirkan menjadi besar.
Kemenangan di Italia bukan akhir, melainkan pintu gerbang. Sekembalinya ke Amerika Serikat, Clay memutuskan jalan yang mengubah hidupnya selamanya: menjadi petinju profesional. Ia meninggalkan status amatir dengan tekad membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar juara sehari, melainkan legenda sepanjang masa.
Juara Dunia Kelas Berat dan Keberanian Memilih Iman
Tahun 1964, dunia tercengang. Clay mengalahkan Sonny Liston dan merebut gelar juara dunia kelas berat, salah satu sabuk paling prestisius dalam olahraga. Tak lama setelah itu, ia membuat keputusan yang jauh lebih mengguncang: memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali.
Keputusan ini tidak mudah. Amerika saat itu masih dibalut rasisme dan ketakutan terhadap Islam. Ali kehilangan simpati sebagian publik, dicemooh media, dan dipandang sebagai ancaman. Namun bagi Ali, iman bukan sekadar label, itu adalah identitas. Ia berdiri tegak, meski tahu harga yang harus dibayar sangat mahal.
Menolak Perang Vietnam dan Harga Sebuah Prinsip
Ketika Perang Vietnam berkecamuk, Muhammad Ali dipanggil wajib militer. Ia tidak akan dikirim ke garis depan—hanya diminta hadir sebagai simbol dukungan perang. Namun Ali menolak. Alasannya sederhana, tetapi mengguncang dunia: agama dan hati nuraninya tidak mengizinkan.
Penolakan itu mengubah segalanya. Ia dicap pengkhianat, dibenci publik, gelarnya dicopot, lisensi bertinju dicabut, dan ia terancam hukuman penjara hingga 3,5 tahun. Dalam satu keputusan, Ali kehilangan puncak kariernya, uang, dan kebebasan. Namun ia tidak pernah menarik ucapannya.
Perjuangan di Pengadilan dan Kebangkitan Seorang Legenda
Ali tidak melawan dengan tinju, tetapi dengan hukum. Selama bertahun-tahun, ia berjuang di meja pengadilan. Akhirnya, pada 1971, Mahkamah Agung Amerika Serikat membebaskan Muhammad Ali dari seluruh tuntutan. Keadilan berpihak padanya.
Ia kembali ke ring dengan usia lebih matang dan tubuh yang telah melewati masa terbaiknya. Namun jiwa petarungnya masih utuh. Bahkan, petinju yang dinilai terbaik pada masa itu, juara baru George Foreman, dipaksa terhempas ke lantai ring pada ronde ke-delapan, di Kinshasa, Zairi (sekarang Republik Demokratik Kongo) tahun 1974.
Ali menjadi juara kelas berat untuk kedua kalinya pasca sabuk yang tidak pernah dia hilangkan karena kekalahan, dirampas begitu saja oleh kekuasaan. Pada tahun 1978, Ali mencetak sejarah dengan menjadi juara dunia kelas berat untuk ketiga kalinya, sebuah prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tak lama setelah itu, gejala penyakit Parkinson mulai merampas ketangkasannya. Ali pun memilih pensiun, meninggalkan ring dengan kehormatan.
Dari Petinju Menjadi Pejuang Kemanusiaan
Di masa pensiun, Muhammad Ali menemukan panggung yang lebih luas dari ring tinju: kemanusiaan. Ia menjadi filantropis, duta perdamaian, dan pembela hak-hak rakyat tertindas. Ia berbicara menentang perang, membantu korban kelaparan, dan menjembatani konflik antarbangsa.
Secara politik, Ali adalah sosok yang kompleks. Ia pernah mendukung Jimmy Carter dan menyukai pemerintahan Presiden Gerald Ford, terutama karena urusan pajak yang menurutnya lebih adil. Namun satu hal konsisten: Ali selalu berpihak pada manusia, bukan kekuasaan.
Mengapa Muhammad Ali Dicintai Dunia?
Muhammad Ali dicintai bukan karena ia tak pernah jatuh, tetapi karena ia berani jatuh demi prinsip. Ia diyakini sebagai manusia yang bisa melangkah ke negara mana pun tanpa rasa takut, bahkan sebagian menilai, kalaupun tanpa paspor, tidak akan ada negara yang menolaknya, karena cinta manusia kepadanya.
Lahir sebagai Cassius Clay Jr pada 17 Januari 1942, wafat pada 3 Juni 2016, Ali mengajarkan dunia bahwa keberanian sejati bukan hanya tentang memukul lawan, melainkan tentang berdiri teguh saat seluruh dunia meminta kita menyerah. Ia bukan sekadar legenda tinju. Ia adalah suara hati nurani global, yang membuatnya dicintai tidak hanya saat hidup dan matinya, tapi mungkin saja sepanjang masa.
Sumber: Biography.com, Encyclopaedia Britannica, BBC Sport, The New York Times,Muhammad Ali Center
Kecelakaan Maut Anthony Joshua; Ini Identitas Dua Orang Terdekat yang Meninggal Dunia
Detik-detik Mencekam Anthony Joshua Kecelakaan Mengerikan di Nigeria, Korban Jiwa Berjatuhan
Berani Naik Kelas, Jake Paul Tumbang KO dari Anthony Joshua di Laga Megabintang Netflix
Terence “Bud” Crawford Resmi Pensiun, Tutup Karier Tak Terkalahkan: Tak Ada Lagi yang Perlu Saya Buktikan
Air Mata Mantan PSMS untuk Ronny Pasla: Witya Meminta Penghargaan Layak bagi Legenda Si Macan Tutul