Perlu Peran Semua Pihak Antisipasi Cuaca Dinamis dan Ekstrim di Sumut
Kitakini.news – Untuk mengantisipasi
cuaca dinamis dan ekstrem yang terjadi dibeberapa wilayah Sumatera Utara
(Sumut), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan lainnya sangat diharapkan perannya.
Mulai dari perkiraan, kesiapsiagaan hingga penanggulangan terkait bencana.
Baca Juga:
- INALUM Prioritaskan Bantuan Bencana di Sumatera, Alihkan Perayaan Ulang Tahun ke-50 untuk Kemanusiaan
- Walhi : Tak Cukup Hanya Cabut Izin, Presiden Harus Tuntut PT TPL Ganti Rugi dan Rehabilitasi Lingkungan
- FORSOMAKAR Desak Gubernur Sumut Benahi Perizinan Tambang Galian C dan Hentikan Maraknya Tambang Ilegal
Kepala Bidang Kedaruratan dan
Logsitik BPBD Sumut Yosi Sukmono mengatakan kondisi cuaca panas yang melanda
sebagian besar wilayah Sumut dalam dua bulan terakhir, tetapi juga sempat
berubah secara cepat dalam tempo beberapa jam. Seperti yang baru saja terjadi
di kawasan Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang pada akhir pekan lalu,
dimana curah hujan tinggi di wilayah hulu sungai, menyebabkan bencana banjir
bandang di pemandian alam Sembahe dan sekitarnya.
Yosi Sukmono menyebutkan pentingnya
langkah antisipasi yang diawali dengan kesiapsiagaan dalam hal penanganan cepat
kebencanaan. Sebab bencana cenderung berulang di lokasi yang berdekatan.
Karenanya diperlukan atensi serta peringatan dari lembaga terkait, termasuk
dalam rangka pencegahan.
“Perlu kita tingkatkan kewaspadaan,
sehingga peran itu tidak hanya dilakukan pada saat terjadi bencana. Kita
melakukan evakuasi, bantuan logistik, atau informasi sebelum terjadi bencana
itu (biasanya) bisa diperkirakan. Tentu ini harus diantisipasi,” kata Yosi di
Medan, Sabtu (6/5/2023).
Yosi juga mengaitkan antisiapsi
tersebut dengan bencana banjir bandang yang terjadi di kawasan pemandian
Sembahe akhir pekan lalu. Justru kejadian itu berlangsung saat cuaca pada pagi
hingga siang hari tergolong cerah.
“Saya ambil contoh di Sembahe itu,
informasi BMKG memang ada intensitas hujan meningkat. Tetapi ini agak unik, di
ujung dan pangkal dari wilayah itu intensitas hujan tidak tinggi.
Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” imbuhnya.
Sebagai lembaga yang selalu dituntut
kesiapsiagaaannya, Yosi menegaskan pihaknya senantiasa mengkondisikan seluruh
perangkat seperti peralatan kebencanaan terutama petugas dalam kondisi siap.
Sebab bencana bukan sesuatu yang diprogramkan atau sudah diketahui kapan dan
dimana akan terjadi.
“Kita memastikan semua peralatan
dalam kondisi baik, karena dilakukan pemeliharaan secara berkala. Ketika tidak
ada bencana, kita lakukan simulasi berkala. Begitu juga yang kami sampaikan
kepada BPBD kabupaten/kota. Jadi ketika ada bencana, kita sudah siap.
Sebagaimana yang dilakukan BPBD Deli Serdang saat banjir bandang terjadi di
Sembahe, tim dari Deli Serdang langsung turun ke lokasi,” bebernya.
Yosi juga mengingatkan kepada masyarakat
untuk menjaga alam, sebab perusakan lingkungan menjadi satu pemicu terjadinya
bencana. Jika keseimbangan terganggu, maka biasanya menimbulkan dampak buruk
sejalan dengan pengrusakan yang terjadi.
Sementara itu, Fungsional Ahli
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda, Balai BMKG Wilayah Medan, Budi
Prasetyo mengatakan suhu panas memang melanda Sumut, namun apa yang dirasakan
dalam dua bulan terakhir, bukan termasuk suhu ekstrem. Karena kenaikannya tidak
lebih dari 3’C, dari suhu rata-rata dalam lima tahun belakangan.
Adapun suhu panas dan kering yang
melanda, lanjut Budi, merupakan siklus cuaca di wilayah tropis dua musim. Saat
ini tutupan awan di Sumut, khususnya Kota Medan sangat kecil dan terpantau
udara yang stabil dan kelembaban udara di wilayah lapisan atas cenderung
kering, berkisar antara 28-60 persen.
“Proses pertumbuhan awan di wilayah
Sumut sangat tipis. Jadi cahaya Matahari yang sampai kita rasakan, tidak ada
penghalang. Sehingga kita rasakan panas dan gerah. Apalagi kemarin kita rasakan
saat puasa, terutama yang beraktifitas di luar ruangan,” paparnya.
Sedangkan terkait perubahan kondisi
cuaca yang cepat terjadi, masih kata Budi, dalam beberapa hari, bahkan di hari
yang sama, dari panas kemudian hujan, Budi menyebutkan itu sering terjadi.
Sebagaimana yang telah dirasakan beberapa hari terakhir di Kota Medan dan
sekitarnya, suhu cenderung dinamis.
“Kalau kita pantau hari ini suhu
udara mulai normal. Karena dalam beberapa hari ini sudah terjadi hujan di
sejumlah wilayah. Jadi tidak sepanas bulan lalu,” sebutnya.
Untuk perkiraan cuaca, Budi
menjelaskan peran BMKG yang terus memperbaharui informasi melalui rilis
prakiraan cuaca yang dirilis pada pagi hari untuk periode satu hari. Termasuk
juga prediksi kondisi cuaca dalam sepekan, juga akan disampaikan, baik melalui
situs, aplikasi BMKG maupun media sosial yang bisa diakses masyarakat.
“Biasanya kita rilis dari group Whatsapp,
insagram dan lainnya. Untuk masyarakat yang menginginkan hal tersebut, bisa
melihat dari media info BMKG, atau aplikasi info BMKG,” tuturnya.
Dengan begitu, lanjutnya, masyarakat
bisa lebih waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem atau bahkan antisipasi
bencana banjir atau longsor, terutama yang disebabkan intensitas hujan tinggi,
seperti di wilayah dataran tinggi. Sehingga masyarakat yang cepat mengetahui
informasi, atau prakiraan, bisa lebih antisipatif.
Redaksi
INALUM Prioritaskan Bantuan Bencana di Sumatera, Alihkan Perayaan Ulang Tahun ke-50 untuk Kemanusiaan
Walhi : Tak Cukup Hanya Cabut Izin, Presiden Harus Tuntut PT TPL Ganti Rugi dan Rehabilitasi Lingkungan
FORSOMAKAR Desak Gubernur Sumut Benahi Perizinan Tambang Galian C dan Hentikan Maraknya Tambang Ilegal
Berikut Tren Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Sumatera Utara
Kapolrestabes Medan Dukung Turnamen Domino PWI Sumut Jelang HPN 2026