Selalu Ingkar Janji, Indonesia Tolak Normalisasi Hubungan Dengan Israel
Kitakini.news – Direktur Timur Tengah Kementerian
Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia, Bagus Hendraning mengungkapkan bahwa
sifat Israel yang selalu dan sering ingkar janji untuk menyelesaikan konflik
dengan Palestina, merupakan alasan Indonesia untuk menolak menormalisasi
hubungan dengan Israel.
Baca Juga:
Selain itu, Israel kerap mengembangkan wacana yang
tidak bersahabat. Sebab, Tel Aviv bertindak non kompromis, mendorong pemukiman
ilegal di Tanah Palestina, mengganggu tempat ibadah, rasialisme apartheid dan
diskriminasi.
“Andai saja Israel itu mau berubah, wah itu sangat
baik. Tapi saya pesimistis apakah bisa dilakukan. Sebab, pengalaman yang ada,
mereka selalu ingkar janji dan Israel tidak pernah menepati janji, bahkan yang
paling dekat ketika perjanjian Sharm Al Sheikh, pertemuan di Mesir kemarin,
baru saja," beber Bagus seperti dilansir dari CNN Indonesia.com, Senin
(1/5/2023).
"Tak hanya, Israel juga kerap ingin menciptakan
suasana kondusif tidak ada aksi kekerasan. Belum berbilang minggu, sudah terjadi
kekerasan," cetusnya.
Bagus juga tidak yakin apakah Israel akan menerima
solusi dua negara atau Two State Solution. Menurutnya, Israel tidak serius
dengan cita-cita solusi itu.
Two State Solution adalah cara penyelesaian konflik Israel Palestina yang
disepakati komunitas internasional melalui resolusi Majelis Umum Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) No.194. Resolusi itu diadopsi pada 11 Desember 1948.
Solusi dua negara menjadikan Israel dan Palestina bisa berdiri sebagai dua
negara berdaulat yang hidup berdampingan secara damai.
Lebih lanjut, Bagus menyebut tidak pernah mendengar Indonesia berkeinginan
menjadi mediator Israel dan Palestina.
Masih kata Bagus, Indonesia akan terus mendukung
perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina untuk mendapatkan kembali kawasannya
dan mendapatkan kemerdekaanya dengan ibu kota Yerusalem Timur.
Ia menambahkan Indonesia menghormati berbagai upaya lembaga lembaga regional,
internasional, individu atau negara tertentu untuk melakukan pendekatan
pembicaraan dengan masing-masing pihak yang terlibat.
"Saya kira kita bukan tidak konkret ya, kita ini memberikan sesuai dengan
kemampuan kita tentunya," katanya.
Selain di level politik, Indonesia juga disebut memberikan dukungan kepada
Palestina di level yang lain, termasuk kebudayaan, dan kesehatan. Dukungan itu
dianggap sebagai upaya mempersiapkan Palestina bisa mengelola negaranya ketika
nantinya merdeka.
"Tentu saja Indonesia siap sedia untuk memberikan bantuan sepanjang kemampuan
kita memungkinkan," pungkasnya.
Redaksi
Risiko Tekanan Rupiah Meningkat, Meski Emas dan IHSG Naik di Tengah Geopolitik
BEI Dorong Literasi dan Inklusi Pasar Modal untuk Masyarakat Indonesia di 2026
Resolusi Finansial 2026, Pasar Modal sebagai Strategi Pengelolaan Aset Jangka Panjang
Rusak Lingkungan, Presiden Prabowo Cabut Izin PT TPL Serta 27 Perusahaan Lainnya di Sumut, Aceh dan Sumbar
Berikut Tren Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Sumatera Utara