Jangan Tidur Siang Kebanyakan, Bisa Bahaya

Apalagi, kalau tidur siang yang waktunya tidak teratur, bisa menjadi indikator penting dari masalah kesehatan yang mendasar.
Baca Juga:
Melansir berbagai sumber, Minggu (29/6/2025), hal ini disebutkan dalam sebuah studi yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan ke-39 Associated Professional Sleep Societies (APSS) pada Juni 2025 di Seattle, Amerika Serikat.
"Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pola tidur siang bisa menjadi penanda awal penurunan kesehatan atau gangguan pola tidur pada orang dewasa yang lebih tua," ujar Dr. Emer MacSweeney, CEO dan ahli neuroradiologi di Re:Cognition Health yang tidak terlibat dalam studi ini.
Yang jelas, studi ini menegaskan pentingnya menilai kebiasaan tidur siang dalam pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi lansia.
Penelitian ini menggunakan data dari 86.565 partisipan UK Biobank dengan usia rata-rata 63 tahun.
Sekitar 57 persen dari mereka adalah perempuan dan tidak memiliki riwayat kerja malam atau shift.
Dalan penelitian, selama tujuh hari, partisipan mengenakan alat seperti jam tangan (aktigrafi) yang merekam aktivitas, termasuk waktu tidur dan bangun.
Peneliti menganalisis frekuensi, durasi, dan waktu tidur siang dari pukul 09.00 hingga 19.00, dengan dibagi lima plot.
Hasilnya menunjukkan bahwa tidur siang paling banyak terjadi pada pukul 09.00–11.00 (34 persen), disusul 17.00–19.00 (22 persen), 15.00–17.00 (19 persen), 13.00–15.00 (14 persen), dan 11.00–13.00 (10 persen).
Selama masa tindak lanjut delapan tahun, sebanyak 2.950 partisipan (3,4 persen) meninggal dunia, dengan waktu rata-rata kelangsungan hidup 4,19 tahun dari awal studi.
Peneliti menemukan bahwa mereka yang meninggal cenderung memiliki durasi tidur siang yang lebih lama, lebih bervariasi, dan lebih sering tidur siang antara pukul 11.00 hingga 15.00.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat antara tidur siang dan risiko kematian.
Mereka menyebutkan bahwa tidur siang yang berlebihan kemungkinan besar merupakan gejala dari penyakit yang belum terdiagnosis, seperti demensia tahap awal, gangguan metabolik, atau inflamasi kronis.
Menurut Dr. Kanwar Kelley, dokter spesialis THT dan gaya hidup, orang yang memiliki penyakit penyerta cenderung mengalami kelelahan di siang hari, sehingga lebih sering tidur siang.
"Atau, tidur siang mungkin lebih sering terjadi pada mereka yang kurang tidur di malam hari, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit kronis," pungkasnya.

Ilmuwan China Coba Paru-paru Babi untuk Manusia

OTT KPK: Ini Penampakan 16 Mobil dan 7 Motor Mewah Disita dari Kasus Wamenaker Immanuel Ebenezer

Pemko Binjai Dukung Launching Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah Sumut

Dua Persen Anak Sekolah di Indonesia Depresi, Banyak yang Mau Bunuh Diri

Kecap Ikan Berusia 1800 Tahun Ditemukan di Spanyol
