Reksa Dana dan ETF, Jembatan Emas Investor Ritel di Tengah Geliat Pasar Modal Indonesia
Kitakini.news - Di era digital saat ini, literasi dan akses ke pasar modal semakin membuka pintu bagi masyarakat umum untuk berinvestasi. Produk investasi kolektif seperti reksa dana dan Exchange-Traded Fund (ETF) menjadi pilihan cerdas bagi investor ritel yang ingin menikmati keuntungan pasar modal tanpa perlu memilih saham satu per satu.
Baca Juga:
"Reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana dari berbagai investor untuk dikelola oleh manajer investasi ke dalam portofolio saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau efek lainnya," kata Pintor Nasution, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara (Sumut), Senin (17/11/2025).
Sementara ETF, sambungnya, sebagai salah satu bentuk reksa dana, unit penyertaannya diperdagangkan di bursa layaknya saham, sehingga menggabungkan kemudahan perdagangan saham dengan diversifikasi reksa dana. Ini membuat ETF sangat menarik bagi investor yang menginginkan likuiditas intraday sekaligus eksposur investasi terdiversifikasi.
Perbedaan pengalaman antara membeli reksa dana secara langsung melalui agen atau platform online dengan membeli ETF di bursa terasa nyata saat investor ingin masuk atau keluar posisi secara cepat. Unit reksa dana konvensional biasanya dibeli dan dijual berdasarkan nilai aktiva bersih (NAB) pada akhir hari, sedangkan ETF bisa diperdagangkan sepanjang jam bursa dengan harga yang bergerak mengikuti permintaan dan penawaran di pasar sekunder.
Pintor menambahkan, "ETF memungkinkan strategi yang lebih fleksibel, seperti pembelian intraday atau penggunaan mekanisme seperti short selling dan margin, tergantung aturan yang berlaku."
Data pasar menunjukkan minat masyarakat yang meningkat pesat. Bursa Efek Indonesia (BEI) aktif mendorong pencatatan ETF, dengan 45 produk ETF tercatat di Oktober 2025. Ini menandakan diversifikasi pilihan bagi investor yang ingin terpapar sektor, indeks, atau tema tertentu melalui instrumen bursa. Ada ETF pasif yang meniru indeks dan ETF aktif yang dikelola secara lebih dinamis. Kehadiran ETF baru, termasuk rencana perluasan underlying seperti ETF berbasis emas, menunjukkan ekosistem produk yang terus berkembang seiring kebutuhan investor.
Industri reksa dana Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada Oktober 2025, total dana kelolaan (AUM) industri reksa dana mencapai sekitar Rp621,7 triliun, didorong oleh aliran dana ke berbagai jenis reksa dana seperti pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Dengan sekitar 1.900 produk reksa dana dari berbagai jenis, investor memiliki beragam pilihan strategi dan profil risiko.
Namun, Pintor mengingatkan, "Jumlah produk yang besar menuntut kewaspadaan. Tidak semua produk memiliki kinerja sama, dan biaya manajemen serta struktur fee bisa berbeda antar manajer investasi. Pemilihan reksa dana harus didasari pemahaman tujuan investasi, horizon waktu, dan biaya yang dikenakan."
Dari sisi inklusi, jumlah investor pasar modal melonjak. Laporan OJK dan pelaporan pasar pada 2025 menunjukkan Single Investor Identification (SID) yang tercatat mencapai 18–19 juta investor pada pertengahan hingga akhir tahun. Pertumbuhan ini berkorelasi dengan peningkatan edukasi dan kemudahan pembukaan akun melalui broker dan platform manajemen aset.
Bagi calon investor baru yang ingin memulai investasi ETF, Pintor memberikan tips praktis. Pertama, pahami tujuan investasi, apakah untuk likuiditas jangka pendek, proteksi modal, atau pertumbuhan jangka panjang.
Kedua, perhatikan biaya seperti fee manajer investasi, biaya pembelian/penjualan, dan spread ETF yang dapat memengaruhi hasil bersih. Dan ketiga, periksa likuiditas ETF, cari yang memiliki kuotasi memadai.
"Terakhir, manfaatkan informasi seperti indicative net asset value, laporan kinerja historis, dan komposisi portofolio. Sumber terpercaya adalah informasi resmi dari OJK, BEI, dan KSEI serta laporan manajer investasi," tandasnya.
Berani Naik Kelas, Jake Paul Tumbang KO dari Anthony Joshua di Laga Megabintang Netflix
Netflix Akuisisi Warner Bros Seharga Rp1,3 Ribu Triliun
BEI Sumut Lampau Target Edukasi Pasar Modal, Tambah Lima Galeri Investasi Baru
Konsentrasi Investor Pasar Modal di Sumut Terpusat di Medan, Didominasi Laki-Laki dan Generasi Z
Strategi Investor di Tengah Profit Taking, Jaga Disiplin dan Fokus Jangka Panjang