Kamis, 25 Juli 2024

Bisnis Starbucks Turun Tajam, Efek Boikot dan inflasi, Pelanggan: Terlalu Sombong

Fitri - Senin, 17 Juni 2024 14:55 WIB
Bisnis Starbucks Turun Tajam, Efek Boikot dan inflasi, Pelanggan: Terlalu Sombong
Instagram.com/@starbucksindonesia
Efek boikot dan inflasi, bisnis starbuck merosot tajam.
Kitakini.news - Bisnis warung kopi Starbucks mengalami kemunduran yang signifikan. Disinyali ini karena adanya aksi boikot terkait Israel-Palestina. Selain itu, faktor inflasi juga berperan.

Melansir berbagai sumber, Senin (17/6/2024), seorang pelanggan di AS, Andrew Buckley (50), mengaku baru-baru ini berhenti mengunjungi Starbucks setelah harga kopi favoritnya baru-baru ini dinaikkan menjadi 6 dollar AS (sekitar Rp98.000).

Baca Juga:

"Saya sudah terganggu dengan inflasi pada umumnya. (Kenaikan harga Starbucks) ini menjadi yang penghabisan. Saya tidak sanggup lagi," ujar Buckley.

Pelanggan lainnya, David White, mengaku syok melihat kenaikan harga kopi Starbucks dalam beberapa bulan terakhir. Dia bahkan pernah batal membeli di tengah memesan kopi begitu melihat harga di kasir.

Selain kenaikan harga, White juga kesal atas tindakan keras Starbucks terhadap para pekerja yang ingin berserikat. "Mereka sudah terlalu sombong," kata pria berusia 65 tahun asal Wisconsin ini.

"Mereka terlalu banyak menekan pelanggan sehari-hari dan mengambil keuntungan melalui karyawan dan harga," tambahnya.

Sebagai informasi, Di AS yang masih menjadi pasar terbesar dan terpenting Starbucks, penjualan turun 3 persen. Angka ini merupakan penurunan terbesar dalam beberapa tahun di luar pandemi dan krisis ekonomi AS pada 2007-2009.

Bahkan, sejumlah pelanggan perusahaan yang paling setia mengalami penurunan sebesar 4 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Para pejabat eksekutif Starbucks cenderung tidak mengomentari topik boikot saat mendiskusikan penjualan. Namun, Sharon Zackfia, kepala konsumen di perusahaan manajemen investasi William Blair, menyatakan hal itu adalah nyata.

"Kepala Anda pasti tenggelam dalam pasir kalau tidak merasa (boikot) memiliki dampak," katanya.

Ya, Starbucks adalah satu dari merek asal Amerika Serikat yang menghadapi penolakan atau reaksi keras karena disebut berafiliasi dengan Israel.

Analisis Bank of America menyebut seruan boikot Starbucks kian merebak di media sosial pada Januari dan ini terus berlanjut.

Bahkan, bulan lalu, komedian YouTube Danny Gonzales sampai meminta maaf ke 6,5 juta pengikutnya setelah gelas Starbucks tidak sengaja muncul di salah satu videonya dan menuai protes.*

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Diprediksi Deflasi Idul Adha akan Lebih Besar dari Idul Fitri

Diprediksi Deflasi Idul Adha akan Lebih Besar dari Idul Fitri

Hassanudin Komit Terus Jadikan Pengendalian Inflasi Atensi Penting Pemprovsu

Hassanudin Komit Terus Jadikan Pengendalian Inflasi Atensi Penting Pemprovsu

Bahas Pengendalian Inflasi Daerah, Pj Gubsu Ikuti Rakor Bersama Kementerian

Bahas Pengendalian Inflasi Daerah, Pj Gubsu Ikuti Rakor Bersama Kementerian

Ekonom Prediksi Juni Sumut Akan Cetak Deflasi

Ekonom Prediksi Juni Sumut Akan Cetak Deflasi

Mei 2024 Sumut Inflasi 0,48 Persen, Cabai Merah Masih 'Pedas'

Mei 2024 Sumut Inflasi 0,48 Persen, Cabai Merah Masih 'Pedas'

Penampilan Terbaru Prilly Latuconsina yang Bikin Heboh: Berat Badan Turun Drastis

Penampilan Terbaru Prilly Latuconsina yang Bikin Heboh: Berat Badan Turun Drastis

Komentar
Berita Terbaru